Senin, 20 Desember 2010

Stasiun Jatinegara (3)


Terletak di jalan Bekasi Barat, stasiun lama Jatinegara masih kokoh berdiri. Stasiun Jatinegara merupakan salah satu stasiun besar dan tua yang ada di wilayah Jakarta. Dapat diperkiraan usia Stasiun Jatinegara hampir sama dengan stasiun-stasiun besar seperti stasiun Senen, Manggarai, Ancol, dan Tanjung Priok. Angka tahun yang tertera pada alat-alat berat perbengkelan kereta api di stasiun Jatinegara menunjukkan bahwa sudah sejak tahun 1913 stasiun kereta Jatinegara telah berdiri.

Pada masa lalu, stasiun Jatinegara merupakan penghubung transportasi darat yang populer. Sebagai angkutan massal, kereta api memang lebih efisien dalam dalh mengangkut jumlah penumpang dan arak tempuh yang jauh. Kini, stasiun kereta api Jatinegara tak hanya melayani trayek luar kota saja tetapi dalam kota. Fasilitas listrik untuk pembangkit kereta listrik kini makin mengefektifkan roda transportasi. Ditambah lagi dengan penambahan armada kereta listrik baru buatan Jepang yang kini melayani perjalanan cepat (ekspress) dalam kota.

Kondisi di depan stasiun Jatinegara tak jauh berbeda dengan stasiun-stasiun lainnya yang ada di Jakarta. Banyak pedagang yang berdagang diemperan stasiun. Ada bermacam macam pedagang yang berdagang di emperan stasiun. Mulai dari penjual majalah bekas dan baru, penjual air minum, tukan jual kue, tukang buah hingga calo tiket.

Pada malam harinya sekitar pukul 20.00 malam di bahu jalan persis di depan stasiun Jatinegara, banyak bermunculan para pedagang yang meramaikan suasana malan daerah tersebut. Para pedagang yang berjualan pada malam hari di depan stasiun Jatinegara, banyak menjajakan barang dagangannya muali dari Baju, jaket, sepatu, celana, celana dalam, pakaian dalam wanita, bahwa para penjual obat kuat banyak yang mangkal dari depan stasiun hingga tikungan pintu kereta pisangan baru.

Stasiun Jatinegara dapat diakses dari berbagai arah. Mulai dari arah bekasi hingga matraman. Kendaraan umum pun banyak yang melintas persis didepan stasiun Jatinegara, mulai dari angkot, minibus, bus besar, bajaj, hingga tukang ojek. Karena banyak dilewati kendaraan maka wilayah tersebut tak urung sering macet dari pukul 08.00 hingga pukul 18.00. Stasiun Jatinegara sendiri beroperasi setiap harinya mulai pukul 06.00 hingga pukul 21.00.

Pasar Jatinegara atau Pasar Mester (2)


Dahulu
Pada masa penjajahan Belanda, Jatinegara merupakan pusat dari kabupaten yang dikenal sebagai Meester Cornelis. Kabupaten Jatinegara saat itu meliputi Bekasi, Cikarang, Matraman dan kebayoran. Nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942. Meskipun demikian, nama Jatinegara yang berarti ‘negara sejati’ itu sudah dipopulerkan oleh Pangeran Ahmad Jayakarta saat beliau mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum di wilayah Pulo Gadung, Jakarta Timur. Versi lain mengatakan bahwa nama Jatinegara diadaptasi dari banyaknya pohon jati yang masih ditemukan di kawasan tersebut pada masa pendudukan Jepang, sehingga nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara.

Pada pertengahan abad ke 17, Belanda memberikan ijin pembukaan hutan di sebuah kawasan yang jaraknya kira-kira 15-20 kilometer dari Batavia kepada Cornellis Senen (seorang guru agama Kristen). Cornellis Senen adalah seorang keturunan Portugis yang berasal dari Lontor, Pulau Banda. Dia mampu berkhotbah dalam bahasa Melayu maupun Portugis (Kreol). Cornellis Senen biasa dipanggil Meester yang berarti tuan guru. Konon beliau ditolak oleh panitia ujian saat beliau ingin menempuh ujian untuk menjadi seorang pendeta pada tahun 1657. Bisa jadi beliau ditolak karena beliau bukan asli keturunan Belanda. Namun demikian, beliau diberi hak untuk membuka hutan dan menebang pohon jati di tepi sungai Ciliwung. Hutan yang dibukanya kini menjadi daerah padat penduduk yang dikenal sebagai Jatinegara. Nama Meester sendiri diabadikan menjadi Pasar Meester. 

Saat ini
Pasar Lama Jatinegara atau lebih dikenal dengan Pasar Mester, merupakan pusat ekonomi bagi warga Jatinegara. Pasar Lama Jatinegara  mempunyai banyak deret bangunan  dimana dulunya dikenal dengan bangunan Belanda. Di sekitar pasar tersebut juga terdapat pedagang-pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya mulai dari pukul 7 pagi hingga pukul 6 sore. Salah seorang pedagang boneka bernama Intan, mengatakan bahwa barang yang dijual rata-rata adalah kebutuhan rumah tangga khususnya pakaian. Orang-orang yang berdagang di daerah luar rata-rata berasal dari Sumatera khususnya Padang dan Palembang. Sedangkan untuk bagian dalam, rata-rata didominasi oleh peranakan. 

Pasar ini menurut Intan, ramai pada tanggal-tanggal muda, dimana orang-orang baru saja mendapatkan penghasilan. Ketika ditanya mengenai pendapatannya per hari, Intan mengatakan jumlahnya tidak tentu tiap harinya. Namun, ia menambahkan bahwa pergantian tampuk kekuasaan pemerintah ternyata mempengaruhi jumlah pendapatannya per bulan. Ketika terjadi kerusuhan pada tahun 1998, pasar ini juga menjadi tujuan penjarahan. Intan mengatakan bahwa tokonya sempat menjadi incaran para penjarah, beberapa barangnya pun raib ditelan massa. Pada tahun 2007, pasar Jatinegara juga sempat mengalami kebakaran di bagian depan. Ketika itu api berasal dari sebuah warung makan karena adanya arus pendek. Beberapa toko habis dilalap api. Kegiatan pasar sempat berhenti sejenak, namun keesokan harinya kegiatan pasar kembali aktif. 



Di sekitar pasar ini banyak terdapat peninggalan sejarah berupa rumah-ruamh Tionghoa lama, tentunya hal itu mengindikasikan sebagai Pecinan. Objek sejarah lain yang terdapat di Jatinegara yaitu: Gereja Koinonia yang dibangun akhir abad ke-19; SMPN 14 Jakarta; Stasiun Kereta Api Jatinegara; Gedung Eks. Kodim 0505; Kantor Pos Jatinegara; dll. 

Jatinegara Masa lalu (1)



Nama Jatinegara baru muncul pada kawasan tersebut, sejak tahun 1942, yaitu pada awal masa pemerintahan pendudukan balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda.

Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin pembukaan hutan dikawasan itu kepada Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen, berasal dari Lontor, pulau Banda. Setelah tanah tumpah – darahnya dikuasai sepenuhnya oleh kompeni, pada tahun 1621 Senen mulai bermukim di Batavia, ditempatkan di kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkannya kepada kaum sesukunya. Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol) Sebagai guru, ia biasa dipanggil mester, yang berarti “tuan guru”. Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Mester Cornelis, yang oleh orang – orang pribumi biasa disingkat menjadi Mester. Bahkan sampai dewasa ini nama itu nampaknya masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh para pengemudi angkot (angkutan kota).

Kawasan hutan yang dibuka oleh Mester Cornelis Senen itu lambat laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia Belanda dibentuklah Pemerintahan Gemeente (kotapraja) Meester Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia. Kemudian, mulai tanggal 1 Januari 1936 Gemeente Meester Cornelis digabungkan dengan Gemeente Batavia.

Disamping kedudukannya sebagai gemeente, pada tahun 1924 Meester Cornelis dijadikan nama kabupaten, Kabupaten Meester Cornelis, yang terbagi menjadi 4 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang (Kolonial Tidschrifft, Maart 1933:1).

Pada jaman Jepang pemerintah pendudukan jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, bersetatus sebagai sebuah Siku, setingkat kewedanaan, bersama – sama dengan Penjaringan, Manggabesar, Tanjungpriuk, Tanahabang, Gambir, dan Pasar Senen.

Ketika secara administrative Jakarta ditetapkan sebagai Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi kewedanaan, karena kewedanaan dipindahkan ke Matraman, dengan sebutan Kewedanaan Matraman. Jatinegara menjadi salah satu wilayah Kecamatan Pulogadung, Kewedanaan Matraman (The Liang Gie 1958:144)

Lalu bagaimana gambaran Jatinegara pada saat ini? Ikuti seri Jatinegara yang berikutnya....

Riset Seri Jatinegara

Pada 2008 beberapa anggota Rumah Sejarah pernah mengadakan penelitian tentang perkembangan pasar di Jakarta. Saat itu tim peneliti bersepakat bahwa Jatinegara menjadi kawasan penelitian pertama, mengingat usia kawasan ini yag cukup menyejarah dalam memori kolektif warga Jakarta. hingga mereka selalu mengingatnya dengan sebutan Mester merujuk pada sang tokoh pembuka kawasan ini. lalu mengapa pasar? sebagaimana kita ketahui, tradisi pasar, adalah tradisi purba yang telah tumbuh di kawasan Nusantara. nenek moyang kita adalah para penggiat pasar, dan bangsa-bangsa asing juga tertarik datang ke negeri ini karena ingin mencari pasar.


Gambar di atas menunjukkan bentuk fisik pasar di Indonesia pertama kali diketahui melalui sebuah relief Candi Borobudur (abad ke-9 M) yang melukiskan aktivitas pasar yang menggambarkan beberapa orang pedagang memikul dagangannya, salah seorang diantaranya membawa ikan, dan seorang wanita sedang mengikat nangka di bawah pohonan nangka yang berbuah lebat. Menurut beberapa arkeolog, prasasti tersebut menggambarkan pasar yang berlokasi di lapangan terbuka.


 Beberapa abad kemudian, bentuk pasar di Nusantara masih kita temui dengan bentuk yang sama, berada di suatu lapangan terbuka. Namun demikian, berdasarkan gambaran pasar di pantai timur Banten pada abad ke- 16, aktivitas pasar semakin marak, dengan ditandai ragam komoditas yang diperdagangkan dan juga berbagai bangsa asing yang turut beraktivitas di dalamnya.

Pada awal abad ke 19, sebagaimana dituliskan oleh Raffles, pasar di Jawa, yang disebut pekan terdapat di bawah pohon besar di suatu tempat yang terbuka  yang memang digunakan untuk keperluan tersebut, atau berupa bangsal-bangsal besar yang beratap ilalang semi permanen, digunakan hanya sebagai pelindung dari terik matahari.    

Kenapa Rumah Sejarah?

Karena keyakinan yang sama, beberapa sejarawan muda  bekerjasama menyusun suatu Rumah Sejarah yang berdasarkan atas beberapa pemikiran berikut: 

Pertama, bahwa pemahaman sejarah yang baik dapat menciptakan individu berkarakter sebagai basis dari masyarakat Indonesia dengan kesadaran civic yang toleran dan demokratis.

Kedua, sejarah bukanlah milik penguasa, pemenang, atau elite akademisi yang menggeluti dunia sejarah secara formal saja, tapi sejarah adalah milik semua individu melampaui sekat-sekat golongan dan kepentingan. Dengan belajar dari sejarah, individu dan masyarakat dapat menggali dan menemukan kearifan masa lalunya yang akan bermanfaat bagi keberlangsungan hari ini dan masa depan.

Ketiga, sejarah bukan sekadar narasi yang berkisah tentang peristiwa politik masa lalu semata, masih terbuka lebar bagi kemungkinan-kemungkinan tema altenatif untuk ditulis sebagai historiografi. Melihat sejarah dari domain politik saja, akan membawa akibat ada bagian masa lampau yang luput dari pengamatan para penulis sejarah. 
Tujuan pembentukan Rumah Sejarah adalah menciptakan sebuah forum belajar untuk mewujudkan kerja-kerja sejarah di antara mereka yang memiliki minat dan perhatian atas studi sejarah, tempat bertukar-pikiran, memfasilitasi penelitian sejarah, mengolah karya dan cipta yang bermuara pada peningkatan kesadaran sejarah masyarakat Indonesia yang lebih baik.  

Untuk melaksanakan itu semua Rumah Sejarah mempunyai tiga agenda utama, yaitu:


Pendidikan Sejarah
Mendorong masyarakat untuk menuliskan sejarahnya sendiri. Dengan memberi bekal pengetahuan teori dan teknis tentang bagaimana memahami suatu peristiwa di masa lalu dan kemudian menyusunnya kembali sebagai suatu kisah sejarah yang semaksimal mungkin objektif dan kritis. Dengan demikian masyarakat secara mandiri akan menemukan kearifan dan mengetahui jati diri mereka sendiri.


Penelitian Sejarah
Akademi Sejarah mempunyai perhatian khusus kepada penelitian sejarah yang dilakukan atas wilayah dan atau tema yang masih kurang mendapatkan porsi dalam  bidang penelitian sejarah. Dalam hal ini akademi bekerjasama dengan berbagai masyarakat pada tingkatan lokal untuk mendampingi mereka dalam melakukan penelitian sejarah dan memproduksinya dalam berbagai format sehingga dapat diakses oleh  semua kalangan dengan mudah. Terhadap karya sejarah yang sudah terbakukan dan menjadi semacam narasi utama Sejarah Nasional Indonesia, akademi akan melakukan penelitian beriring yang akan mengkritisi dan melengkapi sehingga dapat menjadi bahan rekomendasi guna perbaikan dan penyempurnaan yang harus terus dilakukan secara kontinu atas materi Sejarah Nasional yang disahkan oleh pemerintah, terutama melalui kurikulum resmi pendidikan atau publikasi pameran museum pemerintah.   


Dokumentasi dan Publikasi
Secara aktif melakukan pendokumentasian perkembangan kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi dan bahkan arsitektur kota-kota di Indonesia. Selain memproduksi dokumentasi baru, Akademi juga mulai mengumpulkan arsip dokumenter yang telah ada. Kemudian secara berkala mengadakan pameran dalam skala besar dan kecil sebagai bentuk publikasi total atas karya dokumenter atau hasil penelitian tersebut. Dengan demikian sebagai ciri khas agenda akademi adalah, tidak sebatas melakukan publikasi cetak, tapi juga publikasi dalam bentuk audio dan visual yang lebih beragam sesuai dengan perkembangan teknologi. 



Sementara ini, Rumah Sejarah diurus oleh:

Pendiri
Erwien Kusuma
Ivan Aulia Ahsan
Khaerul
Suryo Utomo
Tyson Tirta

Board
Prof. Dr. Adrian B. Lapian
Ir. Ardi Halim
Andi Ahdian
  
Pengurus
Diponegoro Santoso (Penerbitan dan Jaringan)
Erwien Kusuma (Program dan Organisasi)
Ivan Aulia Ahsan (Program dan Organisasi)
Khairul  (Program dan Litbang)
Michael Agustinus (Program dan Penerbitan)
Suryo Utomo  (Program dan Dokumentasi)
Tyson Tirta (Program dan Jaringan)


Rekan 
Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Universitas Indonesia, Indonesia)
Dr. Mohammad Iskandar (Universitas Indonesia, Indonesia)
Dr. Mestika Zed (Universitas Negeri Padang, Indonesia)
Dr. Nico van Horn  (KITLV, Leiden)
Dr. Marieke Bloembergen (Universiteit Amsterdam, Belanda)


dan untuk bersinggah anda dapat menemui Rumah Sejarah di:

Jl. Yahya Nuih 27 Pondokcina, Depok
Telp/Fax. 021 70883286

Email: rumah.sejarah@gmail.com

Lalu apa yang sedang diproduksi dalam Rumah Sejarah?

Pada periode kerja tahun 2011 yang akan datang Rumah Sejarah mencanangkan beberapa program sebagai berikut :
1.     
    Pelatihan Sejarah. Bagi kalangan umum dan pelajar, terutama pelajar SMA di Jabodetabek. Dengan motto: everybody is historian! Pelatihan ini direncanakan akan dilakukan secara kontinyu tiap bulan sepanjang tahun 2011 melalui mekanisme mentoring dan pendampingan. Telah ditentukan lokus pelatihan yang akan dilaksanakan secara  bekerjasama dengan beberapa institusi, yaitu Studi Klub Sejarah UI, Museum Polri, Museum Bank Indonesia, dan Lembaga P2D di Bintaro.
2.     
        Lawatan Sejarah. Memotret kembali perjalanan Anyer-Panarukan. Dengan motto:  Mengurai Jejak Daendels  yang akan dilakukan pada bulan Maret 2011 oleh tim Rumah Sejarah. Hasil lawatan ini akan dipublikasikan dalam bentuk pameran  pada Juni 2011.
3.      
     Penelitian Sejarah Lokal. Meneliti sejarah lokal wilayah pesisir pantai utara Jawa yang menjadi perbatasan kultural dua kebudayaan besar di Jawa. Dalam hal ini, wilayah Kabupaten Brebes akan dijadikan pilot project yang bekerjasama dengan stakeholder setempat. Penelitian dimulai pada Juli 2011 dan hasilnya akan dipublikasikan pada Januari 2012, bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Brebes ke-334.
4.      
    Majalah Sejarah. Penerbitan berkala berupa majalah bulanan/dua bulanan dalam langgam penulisan sejarah yang populer. Majalah ini rencananya akan diterbitkan pada Desember 2011.  
5.     
     Catatan Akhir Tahun 2011. Adalah pameran yang akan diagendakan secara rutin oleh Rumah Sejarah sebagai pelaporan kepada publik hasil kerja lembaga selama satu tahun terakhir.